CONTACT US

 

 

           

123 Street Avenue, City Town, 99999

(123) 555-6789

email@address.com

 

You can set your address, phone number, email and site description in the settings tab.
Link to read me page with more information.

Semalam bersama Derek Ridgers dan 'The Others'

Blog (INA)

Duo penari terkenal dari Jepang AyaBambi dalam kolaborasi oleh AnOther Magazine

Semalam bersama Derek Ridgers dan 'The Others'

Diana Rovanio


Kita semua pahlawan hingga matahari terbit
— Richard Habberley , Kata pengantar dalam buku 'The Others'

Berkat Undangan yang tiba-tiba datang lewat sms, saya menghadiri sebuah peluncuran buku terbaru oleh seorang fotografer legendaris. Awalnya, saya tidak tahu apapun mengenai fotografer ini. Lima menit sebelum sampai, saya membaca profilnya melalui wikipedia dan lansung ternganga melihat prestasinya yang panjang mendunia.

Ditulis Oleh: Diana Rovanio

Mata jeli Derek Ridgers telah mengabadikan evolusi mode Inggris, budaya dan dunia clubbing underground London sejak tahun 1971. Jiwa muda, pemberontakan dan rasa cinta akan kebebasan subjek-subjeknya tersampaikan melalui lensa kameranya dan obsesinya mengenai keseluruhan dunia underground ini telah ia tekuni sepanjang 30 tahun karirnya. Dia mengabadikan semua ini jauh sebelum masa instagram, facebook dan social media. James Brown, Spice Girls, Clint Eastwood, Johny Depp,Vivienne Westwood termasuk tokoh-tokoh yang merupakan subjek fotonya. - Wikipedia // John Maybury, Derek Ridgers: 78-87 London Youth// IDEA Books

Tentunya saya sangat senang dapat menghadiri acara ini. Saya diundang oleh teman saya Stanley Judge, Stanley berasal dari Canada dan ia memiliki brandnya sendiri ‘eternity parfums’ yang membuat parfum dan lilin aromatik. Event launching ini diadakan di Comme des Garcons trading Museum dan Honor Cafe. Tempatnya memang agak tersembunyi. Lokasi ini adalah butik utama Comme des Garcons di Paris dan tempat berbagai macam event. Mereka memiliki halaman yang luas dan sebuah cafe kecil yang menyediakan snack, coffee dan berbagai jenis minuman lainnya.

Ketika memasuki gerbang Comme des Garcons trading museum anda harus menelusuri halaman yang nampaknya kosong, hingga tiba di ujungnya untuk menemukan pintu masuk kedua butiknya di sebelah kiri dan kanan anda. Tidak ada logo yang jelas mengindikasikan merek comme des Garcons, mereka memang sengaja hanya ada warna merah di tirai toko dan pintu yang terbuka agar anda penasaran untuk masuk dan melihat sendiri. Konsep ini sangat konsisten dengan image brand mereka yang kreatif dan playful. Untuk malam ini, acara ini diadakan oleh IDEA Books dan Kim Jones (direktur artistik koleksi pria untuk Louis Vuitton)  dengan kerja sama bersama CONVOY (sebuah agensi konsultasi kreatif di Paris).

Event penandatanganan buku di Paris biasanya adalah event cocktail yang santai. Ketika saya tiba, venuenya sudah mulai ramai dengan para fashionista yang stylish. Rata-rata mengenakan ‘seragam casual chic’ di Paris yaitu jaket wool yang panjang, dilengkapi dengan jeans atau celana chino, dipadankan dengan sepatu kets yang sangat menyolok, sepatu kets hitam, atau pilihan terfavorit warga paris sepatu kets putih terutama Adidas Stan Smith yang sepertinya terus berlipat ganda dengan kecepatan kilat di setiap sisi kota di Paris.

Cuaca malam cukup hangat dan para tamu menikmati minuman yang disediakan dan saling mengobrol dengan satu sama lainnya. Beberapa mengantri untuk mendapatkan edisi mereka dan tanda tangan dari Derek. Stanley dan saya mengobrol dengan beberapa orang di depan Honor Cafe sebelum kami memasuki museum yang juga merupakan ekstensi dari butik comme des garcons.

Di sebelah Derek dengan baju dan celana hitam adalah Dominik Pollin, Public Relation untuk IDEA. Ia juga teman baik Stanley. Dominik sangat cekatan, walaupun sibuk ia menyempatkan diri untuk menyapa semua orang dan menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka. Ketika saya meminta ijin untuk menulis mengenai event ini dan mengambil beberapa foto, dia kemudian memperkenalkan saya kepada Derek.

Yang paling berkesan untuk saya adalah betapa sederhana dan ramahnya Derek. Percakapan kami dimulai dengan permintaan maaf dari saya. Kamera Canon 400D saya macet dan saya terpaksa harus mengambil fotonya dengan iphone. Derek malah tersenyum dan menenangkan saya, dia mengatakan bahwa dia tidak sombong mengenai fotografi dan dia menyukai fakta bahwa fotografi menjadi terakses untuk semua orang dengan adanya iphone dan tekhnologi lainnya. Ia bahkan sangat terkesan dengan beberapa foto yang diambil orang-orang dengan handphone mereka. Ketika saya menanyakan jika ada subjek lain yang ingin ia telusuri, ia mengatakan bahwa ia senang tidak mengetahui apa yang akan lakukan selanjutnya atau apa yang akan ia abadikan. Ia tentunya ingin berlanjut di dunia fashion. Di dalam pengalamannya memotret fashion ia lebih suka bekerja dengan tim kecil, hanya dirinya, seorang stylist dan model untuk proses pemotretan yang natural.


Satu hal yang kuamati mengenai fotografi jaman sekarang, Selfie dan foto-foto yang diambil oleh komputer orang awam seringkali fantastis hasilnya. Saya telah memfoto beberapa individu kreatif yang sangat mengagumkan, dan hasil selfie mereka bahkan jauh lebih bagus daripada fotoku akan mereka. Mungkin hal ini dikarenakan mereka yang bekerja dengan subjek yang mereka sukai?
— Percakapan Derek Ridgers & David Owen dari IDEA Books , interview di i-D.vice.com, 12/11/15

Ketika ia sedang menandatangani edisi buku saya, saya baru sadar kalau dibelakang saya macet antri. Untuk menghindari ditimpuk stiletto atau sepatu kets gaya oleh para fashionista (siapa yang bisa menjamin reaksi mereka ketika frustrasi hahahah) Saya mengucapkan terima kasih pada Derek untuk waktunya.

Sebelum pergi, saya meminta berfoto (teteeeuup gaya). Bosan dengan gaya normal saya mulai berpose-pose sendiri (refleks gugup saya = pose aneh). Ketika Dominik menunjukkan hasilnya ada sebuah foto dimana muka saya menurut Derek seperti penuh ekstasi. Derek menanyakan jika ia boleh memasangnya di halaman facebooknya.

Percakapan di kepala saya:

1. DEREK RIDGERS akan memajang foto kami di facebook!!! Aaaaagghh!!!

2. ASTAGA tampangku!!!

3. Muka ekstasi = baguskah????

4. Wow! Satu menit momen selebriti jadi ‘the others’

5. Tenangkan diri, profesional, contohlah Angelina Jolie

Malampun berakhir dan saya beranjak pulang naik metro (kereta underground di Paris dengan 14 jalur yang semuanya saling terhubung). Dalam perjalanan, saya mulai membolak-balik halaman buku The Others. Melihat The Others rasanya seperti masuk ke dunia underground Club Inggris di tahun 80an. Kita seakan menjadi pengamat tersembunyi akan kehidupan malam rahasia London dengan massanya yang riuh, energetik dan liar. Setiap fotonya seperti melangkahkan kaki ke dalam dunia yang berbeda, lepaskan dirimu dalam suasana, dengarkan musik yang mendentam, bergeraklah diantara massa, rasakan keringat yang mengalir, saksikan para kekasih mengecap mulut, pertemuan sesaat dengan berbagai persona dalam kreasi sartorial unik mereka. Bertemulah dengan The Others yang hidup hanya untuk malam. Meninggalkan kita -sang pengamat- dalam rasa iri dan kagum akan malam-malam misterius yang mereka lewati dengan kebebasan yang meluap.

Semua ini membuat saya jadi berpikir mengenai ritual berdandan sebelum clubbing. Ingatkah kamu saat pertama pergi clubbing? Saya ingat mempersiapkan diri berjam-jam supaya tampil paling ok (dengan hasil; tanktop garis-garis vertikal, jeans bell bottom lebar, dan high heel wedges berwarna hitam- gado-gado dosa fashion dalam 1 outfit).

Saya percaya bahwa kita semua pernah mengalami saat dimana kita ingin ‘beda’ , ingin bebas lepas. Bagaimana dengan kamu? Apakah kamu pernah mengalami masa transisi ini?  Dan apakah kamu masih ingat outfit clubbing pertama kamu?

Test