CONTACT US

 

 

         

123 Street Avenue, City Town, 99999

(123) 555-6789

email@address.com

 

You can set your address, phone number, email and site description in the settings tab.
Link to read me page with more information.

Mari Ngobrol Tentang.. | Rasa bersalah

Blog (INA)

Duo penari terkenal dari Jepang AyaBambi dalam kolaborasi oleh AnOther Magazine

Mari Ngobrol Tentang.. | Rasa bersalah

Diana Rovanio

©Thea Nalls via theunencumberedself

Rasa bersalah adalah emosi yg begitu mendarah daging dalam kehidupan kita sehari-hari sampai kadang saya heran kenapa hal ini belum belum disertifikasi sebagai penyakit . Saya sendiri seorang pecandu berat dari rasa bersalah. Rasanya kita semua jaman sekarang, jadi ahli dalam membuat standar yang mustahil, seakan-akan setiap peran yang kita jalankan itu penuh dengan deadline yang harus dicapai. Contohnya, pernah enggak kamu berpikir:

Saya bukan teman/ anak/ istri/suami/etc. yang baik

Kenapa sih saya enggak bisa masak / jahit / nyanyi /(masukkan keterampilan yg inging kamu kuasai di sini)

Mengapa saya enggak bisa lebih_________

Atau

Kalau saya bisa turun ( 2,3,4.... kilo maka saya akan sempurna ) 

Kalu saya punya___ baru saya bisa bahagia

Jika saya bisa capai___baru saya akan bahagia

 Jika ______ terjadi , baru aku bisa bahagia

Dan seterusnya

Tapi kenapa? Bahkan si Barbie aja nyerah soal ide untuk jadi sempurna ( kecuali si sarkastik socality Barbie, dia memang keren abis! ) .

Anna Wintour, ratu fashion, yang kerja utamanya menyebarkan ide tentang kesempurnaan bahkan mengatakan bahwa kesempurnaan itu enggak eksis, kalau itu adalah hal yang hampa dan tidak mungkin untuk dicapai.

Sejak kapan kita lupa bahwa hidup bukan sekedar gambar instagram yg sempurna? Semua orang seolah-olah terprogram untuk jadi "orang iperfect" yang terus-menerus mengisi semacam katalog abadi. Jaman sekarang dimana anak berusia 3 tahun bisa menyanyi seperti Beyonce dan para remaja berlomba-lomba menjadi billliuner dalam sekedip mata, siapa yang punya waktu untuk hal lain selain ngejar kesempurnaan?  'Sempurna tidak nyata' masuk telinga kiri keluar telinga kanan. Tapi coba deh kamu pikir, siapa yang mau temenan dengan "si sempurna" ? Dia enggak akan pernah bisa ngerti kesusahan yang kita alami karena dia ... sempurna. Mana bisa dia ngerti ketika kamu enggak sengaja marah-marah meskipun kamu enggak bermaksud untuk marah-marah. Atau waktu kamu frustrasi dengan jerawat yang terus bermunculan entah dari mana, atau gimana sedihnya kamu waktu kamu gagal meskipun kamu sudah berusaha setengah mati.

Semua rasa bersalah karena kita tidak menjadi image yang kita bayangkan hanya akan menuju rasa benci diri sendiri, benci pada siapa pun yang kita berusaha untuk senangkan dan benci pada apa pun yang kita coba untuk capai. Saya ingin berbagi sedikit mengenai pengalaman saya dengan rasa bersalah;

©Thea Nalls via theunencumberedself

Ketika saya tinggal di Indonesia, saya merasa menjalani kehidupan ganda. Sebagai anak pertama dalam keluarga, saya merasa harus menjadi contoh untuk adik-adik saya dan saya juga menderita sindrom «anak tak pernah sempurna». Saya terus-terusan berusaha untuk membentuk diri ke citra sempurna putri / siswa / adik dan segala ide « sempurna » yang ada di kepala saya, sampai saya udah enggak tahu siapa diri saya yang sebenarnya.

Semakin tambah umur, saya makin gelisah dan makin bergumul. Separasi antara diri asliku dan imageku yang harus tampil sempurna di mata orang tua dan orang lain makin membesar. Tiap detik seperti bom waktu penuh rasa bersalah yang menunggu ledakkan. Jujur aja, di saat itu, saya juga merasa gundah karena merasa pandangan hidup ideal saya berbeda dengan apa yang mungkin orang tua saya harapkan.

Pandangan Orangtua:

Lahir>Masa Muda>Kerja>Menikah (Pencapaian sakral level 1) >Punya Anak (Pencapain Sakral level 2)> Tambah Anak> Game Over

Saya:

Lahir> Masa Muda > Temukan panggilan hidup > travel> Merasakan Hidup Sendiri (single and fab yo!) > Beli Loft (okay, batin hipsterku lagi mimpi lagi) > kemudian (Jika jodoh) temu pasangan jiwa>lalu (punya anak?? yah, pikir dulu, kalau siap sih boleh aja) > pemakaman serba glam dihadiri teman-teman dan (possible soulmate serta anak- kalau tersampai) dimana mereka semua tukar cerita tentang pengalaman mengenal diriku ini dan gimana kerennya pesta pemakamannya.

Kelihatannya mungkin cukup gampang namun pada kenyataannya tidak . Mengapa? Nah di Indonesia sangat umum bahwa seorang anak, apalagi anak gadis, untuk tinggal di rumah orang tua mereka sampai hari pernikahan dan kemudian pindah ke rumah suami. Pada saat itu, saya merasa bahwa saya harus terus mencoba menyesuaikan diri saya dengan segala ekspektasi dan cara hidup yang dianggap ideal dan melupakan semua ide-ide saya ini karena:

1.     Keinginan saya itu adalah sebuah kesalahan

2.     Keinginan saya tidak mungkin tercapai

3.     Saya harus mengikuti ide yang sudah tersedia untuk bisa bahagia, untuk membahagiakan ortu saya dan untuk membuat mereka bangga

Semakin saya merasa bahwa saya harus menyesuaikan diri saya untuk menjadi "si sempurna" semakin saya merasa marah. Keinginan untuk memiliki jalan hidup yang lain terus berputar di kepala, namun saya juga merasa bersalah karena menginginkannya. Saya merasa bersalah, karena ingin pergi dari rumah orang tua, bersalah karena rasanya saya anak durhaka, bersalah karena saya enggak bisa jadi anak yang seperti mereka inginkan. Semua ini membuat saya sunggguh lelah dan hampa. Saya juga merasa bersalah karena saya merasa marah sepanjang waktu. Rasa bersalah seperti ombak yang terus menghempas keras. Saya tak dapat melihat besarnya cinta orang tua saya dan saya tidak percaya bahwa mereka akan bisa menerima saya apa adanya.

Sedihnya, hal ini juga mempengaruhi orang tua saya, yang juga merasa bersalah karena mereka merasa bukan orang tua yang baik, karena saya tidak bahagia. Dan saya terus merasa bersalah karena walau bagaimanapun baiknya mereka pada saya, saya merasa harus menghapus diri saya untuk membuat mereka bahagia. Hal ini terus berputar seperti siklus jahat yang tak pernah berakhir.

Hingga titik balik:


Meninggalkan

Semua

ke Belakang

untuk

pertama

kalinya


©Thea Nalls via theunencumberedself

Untuk pertama kalinya dalam hidup saya. Saya bisa berpikir tanpa rasa bersalah yang terus-menerus menghantui pikiran saya. Saya merasa lega, bebas dan merasakan sebuah harapan timbul. Sedikit demi sedikit saya menambal luka-luka hubungan saya dengan keluarga saya dan juga hubungan saya dengan Tuhan. Saya akhirnya dapat melihat bahwa yang terjadi di antara saya dan orang tua saya adalah perbedaan pendapat mengenai hidup. Saya juga menemukan kekuatan untuk merombak diri dan membangun diri saya kembali perlahan-lahan.

Seluruh hal yang saya alami sejauh itu akhirnya mencapai puncaknya ketika mama saya mengunjungi saya untuk pertama kalinya di Paris.

Saya sebenernya takut banget. Gimana caranya kita akan survive selama 10 hari bersama di dalam apartemen mini berukuran 18m2 tanpa bertengkar sekalipun? Atau lebih parah lagi; Jika saya tak sengaja menyakiti mama saya dengan kata-kata saya. Bagaimana mungkin kita bisa terhindar? ketika di rumah kami di Jakarta dengan ruangan yang lebih banyak untuk memisahkan diri, kita masih sanggup menyakiti satu sama lainnya.

Tapi, sesuatu kejutan terjadi. Kali ini, peran kami dibalik. Sayalah yang berperan sebagai "orang tua". Saya berhasil menunjukkan mama saya bahwa saya dapat mengatasi segala kesulitan yang ada di kota ini, menangani segala hal dalam tiap perjalanan kami dan hal ini pada akhirnya membuat mama saya memandang saya dengan mata yang berbeda. Titik puncaknya tercapai ketika saya memasakkan makan malam di malam terakhir perjalanan saya. Pada akhir makan malam, mama saya melihat saya dengan pandangan bangga. Saya pun mengumpulkan nyali untuk minta maaf. Beribu pikiran melintas di kepala; bagaimana? bagaimana menghantar maaf setelah begitu banyak luka yang kutoreh di hati mama? Kami berpandangan dan air mata serta kata-kata semua meluncur deras, Mama saya mengulurkan tangannya dan kami saling berpelukkan di sana dalam hening. Setelah bertahun-tahun, akhirnya, kami menemukan damai. 

Saya sangat bersyukur akan kebijakan orang tua saya yang merelakan saya pergi dan mendukung saya, bersyukur akan teman saya Janice yang menemani saya di dalam perjalanan pertama saya dan memberikan sedikit kelegaan pada orang tua saya melepas anak ke negara lain. Karena setidaknya mereka tahu bahwa saya tidak sendirian di sana. Dan terutama kepada Tuhan, karena sepanjang perjalanan hidup saya hingga saat ini, IA sungguh melindungi saya dari segala marabahaya meskipun banyak sekali hal menakutkan yang dapat terjadi.

Jadi untuk temen-temanku semua yang sedang membaca ini, saya hanya ingin bilang, bahwa perasaan lost atau tak tentu itu sangatlah wajar. Kita semua menempuh badai ketidaktentuan ini bersama-sama. Jangan takut untuk membentuk hidupmu seperti yang kamu bayangkan dan jangan ragu untuk memberikan dirimu sedikit waktu untuk bernafas dan meninjau ulang apa yang kamu inginkan. Mungkin saat ini kita belum mencapai target-target yang kita inginkan, atau menjadi diri sesempurna yang kita bayangkan, hidup kita itu seperti proyek sepanjang masa. Kalau dipikir-pikir, kita semua masuk ke dalam peran-peran berbeda dalam hidup kita (teman, orang tua, anak, etc.) tanpa manual yang pasti. Ibaratnya seperti membangun rumah ketika kita belum pernah membangun rumah sama sekali. Hidup ya enggak akan sama seperti membangun furniture Ikea, gimana kita bisa sampai dari A ke B ke Z enggak selurus itu dan kita semua membangun hidup kita ini menurut pengalaman dan kemampuan  dengan sepenuh tenaga.

Saya pun sekarang masih mereka-reka hidup saya, dan ada hari-hari dimana saya merasa tertekan karena merasa belum mencapai apa yang saya inginkan. Tapi saya rasa, salah satu cara paling manjur untuk memerangi perasaan-perasaan seperti ini adalah berlatih untuk bersyukur. Sykuri semua nafas, tawa dan bahkan tiap perjuangan kita, karena seperti yang dikatakan Beyonce, Kita semua bisa jadi calon Bill Gates di masa depan (meskipun saya sih pengennya calon Beyonce masa depan hahah) ;). Dunia akan lebih indah kalau kata 'parfait' (sempurna) hanyalah sekedar nama untuk sebuah dessert. Karena saya percaya bahwa kita semua pada akhirnya akan menemukan jalan kita masing-masing.

©Thea Nalls via theunencumberedself

Ditulis oleh Diana Rovanio, Ilustrasi oleh Thea Nalls


Seluruh Ilustrasi diciptakan khusus oleh Thea Nalls. Untuk Lihat lebih lanjut segala karyanya klik di sini















Test