CONTACT US

 

 

         

123 Street Avenue, City Town, 99999

(123) 555-6789

email@address.com

 

You can set your address, phone number, email and site description in the settings tab.
Link to read me page with more information.

INTERVIEW | 164 Degree on The Equator

Blog (INA)

Duo penari terkenal dari Jepang AyaBambi dalam kolaborasi oleh AnOther Magazine

INTERVIEW | 164 Degree on The Equator

Diana Rovanio

164 degree on the equator (164 derajat di khatulistiwa) adalah sebuah perjalanan surealis melalui mata dua fotografer muda berbakat Charles Negre & Thomas Rousset. Keduanya melesat dengan cepat di industri fotografi di Paris dengan bakat artistik mereka. Saya bertemu mereka di acara peluncuran buku mereka di Etudes Studio di Paris. Percakapan kami dimulai ketika salah satu foto mereka menangkap mata saya dan mengaktifkan radar Indonesia saya. Hal ini berlanjut ke sebuah wawancara dengan Charles sambil minum kopi; obrolan soal fiksi, petualangan mereka & mengecat pohon setinggi 7 meter di tengah Flores. 

Ditulis oleh Diana Rovanio | Foto oleh Diana Rovanio

D: Diana | C.N: Charles Negre

C.N: kamu sadar itu di Indonesia tapi kamu tidak tahu sebelumnya kan?

D: Iya! aku enggak tahu kalau itu difoto di Indonesia tapi ada satu gambar yang bikin penasaran. lalu saya iseng tanya kamu dan Thomas soal lokasi syutingnya. 

D: Jadi di mana datangnya ide untuk 164 degree on the equator? 

C.N: Judulnya sih datang sesudahnya. Ide dasarnya adalah untuk menciptakan sebuah fiksi dalam konteks geografis, sejauh mungkin. 164 Itu adalah koordinat lokasi sebelah Indonesia di perairan Internasional, sebuah pulau imajiner, alam semesta fiksi. 

D: Mengapa Indonesia? 

CN: Kami memilih Indonesia karena seperti di film-film, kita ingin memilih dekorasi, dan karena di Indonesia ada semuanya, laut, hutan, gunung berapi, semua itu menciptakan “backdrop” yang menakjubkan. Kami memilih Indonesia juga karena orang-orangnya; kami memiliki kontak di sana dan kita tahu bahwa sangat mudah untuk bekerja sama dengan mereka. Jadi kami pergi ke sana karena semua alasan ini. Titik awal kami adalah konsep fiksi dan kami ingin mempersiapkan setting dengan hati-hati. Satu lagi yang sangat penting adalah bahwa kita kemudian dapat memperluas ke berbagai negara di seluruh dunia. Satu hal yang pasti, akan selalu ada karakter dan latar belakang misterius, misalnya, kamu tahu yang satu ini? 

D: kalau enggak salah itu permainan kan?

C.N: Ya! Itu permainan! Kami seringkali lihat permainan ini di jalanan dan orang yang kalah harus jepit semua klip jemuran ini  ditelinga mereka, sehingga semua orang lewat tahu kalau dia yang kalah. Yah, dibikin malu gitu. Waktu kami melihat ini, kami langsung membayangkan adegan foto ini. Klip jemuran mungkin adalah hal kecil tapi kami membawanya ke skala yang lebih besar, tema ini seringkali berulang, Hal-hal kecil menjadi sedikit absurd ketika diperbesar dan dimodifikasi, setelah semua persiapan selesai, kami memotret sesuai intuisi. Proses kinerja ini adalah keseharian kami. 

D: Bagaimana dengan topi dengan sangkar burung ini? Detil 2 benda menjadi satu ini sangat menarik.

C.N: Semua gambar yang kamu lihat, kami ciptakan dengan penuh perhitungan.Kami menciptakan semua objek untuk melengkapi gambar sesuai visi kami.

D: Kalian berkunjung ke mana saja di Indonesia ?

C.N: Kami pergi ke Jakarta, Yogyakarta, sekitar semingguan. Awal projek ini sebenarnya tidak terlalu lancar.

D: Oh ya? Kesulitan apa saja yang kalian hadapi?

C.N: Mulanya kami punya segudang ide sebelum tiba di Indonesia. Namun tentunya angan-angan beda dengan realitas. Ketika tiba di Indonesia, kami harus memikirkan kembali seluruh konsep kami dan apa yang dapat kami lakukan. Terlebih lagi, kami belum memiliki dinamika kelompok. Kami memang kenal baik, tetapi bepergian ke negeri asing dan bekerja bersama selama dua bulan non-stop cukup menantang. Kami memiliki gaya foto masing-masing; Thomas lebih ke arah 'portrait' dan saya 'still life'. Kami berdua biasa bekerja sendiri dalam menangani projek kami masing-masing. Tapi kolaborasi ini menjadi sebuah pelajaran, kalau proyek ini dikerjakan sendirian saya rasa bebannya terlalu berat. Dengan bekerja sama, kita dapat mencapai lebih banyak hal. Jadi kami benar-benar berpikir keras selama satu minggu, kemudian kita mengatakan OK. STOP. Sekarang kita akan mulai foto. Kami kemudian lanjut ke Bali, Lombok dan menyeberangi berbagai kepulauan kecil hingga ke Flores, Sumbawa, dan pulau Komodo.

D: Kalian lihat Komodo?

C.N: Iya! Keren abis!

C.N: Kami juga pergi ke Nusa Tenggara, tadinya kami ingin menjelajah hingga pulau Kanawa, tapi keadaan tidak memungkinkan.

D: Bagaimana kalian memutuskan tempat-tempat yang dikunjungi?

C.N: Awalnya, kami merencanakan setengah perjalanan untuk melintasi pulau-pulau dan setengah perjalanan dalam residensi seniman Kersan Art Studio. Itu adalah pusat kesenian kecil di sebuah desa yang letaknya 5-10 menit dari Yogyakarta. Sekalinya kami tiba di tiap lokasi, kami langsung memutuskan durasi tinggal di tempat itu. Contohnya, ketika berada di lombok, kami menemukan banyak ide sehingga kami memutuskan untuk tinggal selama 4 hari di sana, sebelum lanjut ke lokasi yang berbeda.

D: Apa pengalaman yang paling berkesan dari perjalanan kalian?

C.N: Nah, ada satu momen dalam perjalanan kami dimana Thomas mengalami kecelakaan di Flores. Dia jatuh ke dalam lubang dan kakinya benar-benar terpotong terbuka. Tidak ada rumah sakit di desa itu dan kami sangat takut. Kami benar-benar berpikir bahwa kami harus segera kembali ke Perancis. Itu adalah bagian paling menegangkan dari perjalanan.

Kemudian, momen yang kedua adalah pembuatan gambar ini:

Foto ini mungkin bukan yang paling eye catching, tapi ini yang paling rumit. Kami harus menemukan dan mengecat seluruh pohon. Pohonnya setinggi 7 meter, dan kita hanya ber 3 mengecat dan memanjat seluruh pohon ini. Itu perjuangan banget deh. Kami taruh foto ini dengan ukuran lebih kecil, untuk mengundang pemirsa untuk memproses sedikit banyak pada apa yang sedang tejadi di dalam gambar.

Kami kembali ke Bali setelah kecelakaan itu terjadi, dan tinggal di Yogyakarta dalam residensi seniman selama 3 minggu. Meskipun tidak seperti yang kami rencanakan, semuanya berakhir dengan baik. Kami bereksperimen dengan struktur foto dan studio di sana. Periode ini merupakan saat yang paling kreatif. Banyak kejadian seru, beberapa staf di residensi kami minta jadi model dan mereka cekikikan sepanjang pemotretan. Mereka tidak terlalu paham akan apa yang kami lakukan, tapi bahkan kami sendiri tidak tahu kenapa kadang kami bisa mendapat ide-ide aneh ini.

D: Foto apa yang merupakan foto terakhir anda?

C.N: Kue! kami memotret itu di hari terakhir. kami membeli serangga dan kue pada saat yang sama. Kue Indonesia itu kue yang paling keren! saya mencoba untuk mengulang gambar ini tapi tidak bisa sama hasilnya, tidak ada yang bisa mengalahkan kue itu! Hal lain yang lucu juga adalah anak ayam warna-warni. Di foto, mereka tidak langsung terlihat dengan jelas bentuknya.

D: Iya! saya juga ingat mereka dari hari-hari sekolah SD saya. Sering ada tukang jualannya di depan sekolah.

D: Apa yang kalian lakukan dengan objek kreasi yang kalian buat?

C.N: Kami meninggalkan semuanya di Indonesia kecuali beberapa patung yang kami bawa kembali ke perancis.

D: Oh patung-patung tradisional itu kan? Biasanya bukannya warnanya gelap dan terbuat dari kayu ?

C.N: Betul sekali! Kami semprot mereka dengan cat motor yang digunakan para anak muda di desa, untuk menciptakan efek kontemporer.

D: Kamera apa yang kalian gunakan untuk menghasilkan semua foto ini?

C.N: Semuanya diambil dengan kamera argentik dalam rentang waktu dua bulan. Kami tidak dapat melihat hasilnya sama sekali. Ketika kembali ke Perancis dan memproses foto-fotonya, barulah kami melihat semua itu. Jadi buku ini terbentuk setelah jeda yang lama, Bagian editing adalah bagian terpanjang dari seluruh proses ini.

D: Bagaimana kalian membuat pilihan gambar-gambar akhir?

C.N: Hal ini juga cukup rumit. Ada begitu banyak gambar favorit! Setelah kami membuat beberapa seleksi, kami dengan cepat menyadari bahwa ketika sebuah gambar terlalu dekoratif, gambar itu belum tentu bisa digunakan. Misalnya gambar yang satu ini;

rovanio-blog-on-the-equator-book-launch-paris6.jpg

Ia kami gunakan untuk menciptakan mood, namun, meskipun gambarnya indah, tapi gambar jenis ini tidak bisa terlalu sering ditampilkan. Sebuah gambar tidak bisa berada di sana hanya untuk sekedar eksis. Yang paling penting adalah gambar-gambar yang memiliki narasi.

Kemudian ada juga gambar berurut yang menunjukkan sebuah progresi gerakkan. Sebenarnya, pada awalnya, ini adalah satu-satunya hal yang ingin kami lakukan. Contohnya di foto ini :

C.N: Ia kembali beberapa kali di bagian yang berbeda di dalam buku. Hal ini menciptakan jeda dan irama. Ini amat penting. Jika kami harus mengulang semuanya dari awal, hal ini harus direncanakan rinci dari awal proyek. Seperti di dalam film, ada beberapa versi dari adegan, ada karakter utama yang bergerak dari satu episode ke episode lainnya. Ini menciptakan dinamisme dan menambahkan sentuhan realis. Jadi, jika kami melakukannya lagi, kami akan menciptakan lebih banyak irama progresi ini.

D: Bagaimana proses kolaborasi dengan Études Studio?

C.N: Berjalan dengan baik, tapi semua kolaborasi selalu rumit adanya. Banyak bolak-balik negosiasi tentang apa yang terjadi di dalam buku. Mereka ingin mengontrol banyak hal, sebagaimana saya juga, saya bahkan membuat sampel buku sebelum pertemuan, dan kita semua berdiskusi selama setahun penuh untuk mewujudkan proyek ini. Thomas dan saya agak terkejut ketika pertama kali mendapatkan buku ini, karena ada lebih banyak halaman putih dari yang kami perkirakan. Tapi pada akhirnya, kami puas dengan hasilnya, dan kami pikir ada keseimbangan yang baik antara kedua gaya kami.

D: Jadi, apa rencana kalian selanjutnya?

Terjemahan: "Untuk yang satu-satunya mengerti bahwa ini di Indonesia"

C.N: Untuk langkah selanjutnya ada dua kemungkinan, mungkin kami akan kembali ke Indonesia untuk seri kedua dari buku ini, atau memulai dengan negara yang berbeda.

Sampai jumpa | À la prochaine | See you on the next adventure ;)

 

Untuk mengetahui lebih lanjut silahkan lihat Études-Studio




Test